DISEDIAKAN UNTUK: USTAZ ABD AZIZ BIN HARJIN
PENSYARAH CTU 101
DISEDIAKAN OLEH: NOR AMALYNA BINTI MOHAMAD YUSOP
PROGRAM: DIPLOMA PENGURUSAN PERNIAGAAN
TARIKH SERAH: 31 JULAI 2011
TARIKH BENTANG: 1 OGOS 2011
ISI KANDUNGAN:
PENGERTIAN ISLAM DAN IMAN
Seseorang akan merasakan manisnya iman apabila di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk sentiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.
Erti Iman (الإيمان) secara harafiah dalam Islam adalah bererti percaya kepada Allah. Dengan itu orang yang beriman adalah ditakrifkan sebagai orang yang percaya (mukmin). Siapa yang percaya maka dia dikatakan beriman. Perkataan Iman (إيمان) diambil dari kata kerja 'aamana' (أمن) -- yukminu' (يوءمن) yang bererti 'percaya' atau 'membenarkan'. Perkataan Iman yang bererti 'membenarkan' itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam Surah At-Taubah ayat 62 yang bermaksud:
"Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman."
Takrif Iman menurut istilah syariat Islam ialah seperti diucapkan oleh Ali bin Abi Talib r.a. yang bermaksud: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota."
Aisyah r.a. pula berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota."
Imam al-Ghazali menghuraikan makna Iman adalah: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."
Iman ialah membenarkan dengan hati, menyatakan dengan lisan, dan melakukan dengan anggota badan. Ringkasnya orang yang beriman ialah orang yang percaya, mengaku dan beramal. Tanpa tiga syarat ini, seseorang itu belumlah dikatakan beriman yang sempurna. Ketiadaan satu sahaja dari yang tiga itu, sudah lainlah nama yang Islam berikan pada seseorang itu, iaitu fasik, munafik atau kafir.
Dalam Islam, Tuhan, dikenali dalam bahasa Arab sebagai Allah, adalah Pencipta, Pengekal, Pentakdir, dan Hakim alam semesta yang maha berkuasa dan maha mengetahui.[1][2] Islam memberi penekanan berat pada tanggapan Tuhan sebagai tunggal semata-mata (tauhid).[3] Tuhan adalah unik (wahid) dan wujud hanya satu (ahad), maha pengasih dan sangat berkuasa.[4] Menurut tradisi ada 99 Nama Tuhan (al-Asma al-Husna makna harfiah: "Nama-nama yang terbaik") setiapnya menimbulkan suatu sifat berlainan Tuhan.[5][6] Kesemua nama ini merujuk kepada Allah, nama ketuhanan yang agung dan maha menyeluruh.[7] Di kalangan 99 nama Tuhan, yang termasyhur dan terbanyak digunakan adalah "Maha Penyayang" (al-Rahman) dan "Maha Pengasih" (al-Rahim).[5][6]Penciptaan dan pemerintahan alam semesta dilihat sebagai suatu tindakan pengasih perdana untuk mana semua ciptaan menyanyi kemuliaan Tuhan dan bersaksi pada kesatuan dan ketuanan Tuhan. Menurut ajaran Islam, Tuhan wujud tanpa suatu tempat.[8] Menurut al-Quran, "Tiada pengliharan dapat memahami-Nya, tetapi pemahaman-Nya adalah ke atas semua penglihatan. Tuhan adalah di luar semua pemahaman, tetapi mengenal semua benda" (Qur'an 6:103).[2]
Tuhan dalam Islam bukan hanya agung dan berdaulat, tetapi juga suatu Tuhan yang peribadi: Menurut al-Quran, Allah lebih dekat kepada seorang daripada urat jugulumnya (al-Quran 50:16).[9] Tuhan menjawab pada mereka yang memerlukan atau dalam kesusahan bila-bila masa mereka memanggil. Di atas semuanya, Tuhan memimpin kemanusiaan ke jalan yang benar, “cara yang suci.”[8]
Islam mengajar bahawa Tuhan yang disebut dalam al-Quran sebagai Tuhan yang sama disembah oleh agama samawi yang lain seperti agama Kristian dan agama Yahudi
Dan Allah meridhoi Islam, menyempurnakan, dan melengkapinya untukmu agar engkau dapat meraih tujuan hidupmu yang utama yaitu beribadah kepada Allah.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3)
Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.”
ADAKAH ENKAU DAPAT MERAIH NIKMAT ISLAM YANG SEBENARNYA?
Dan saudariku, ketahuilah engkau belum mendapatkan nikmat Islam dalam hatimu sampai engkau memahaminya dengan benar. Pegangan utama seorang muslimah dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.
“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof: 30)
Allah juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholallahu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,
“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syu’ara: 52)
BAGAIMANA UNTUK MEMAHAMI ISLAM YANG SEBENARNYA?
Setelah melihat realiti yang ada, kita dapat mengetahui bahwa tidak semua orang yang belajar Al Quran dan hadits mendapatkan nikmat Islam dalam hatinya. Hal ini memang merupakan hal yang sangat disayangkan. Semua golongan-golongan dalam Islam tidak akan pernah mendapat nikmat Islam karena tidak memahami Al Quran dan hadits dengan benar. Lalu, bagaimana memahami Islam yang benar?
Wahai saudariku, renungkanlah apa yang engkau baca dengan lisanmu setiap engkau sholat maka engkau akan mendapatan jawabannya. Sesungguhnya Allah berfirman, “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka.” (Qs. Al Fatihah: 6-7)
Dari sini, engkau mendapatkan jawabannya, saudariku! Bahwa untuk mendapatkan nikmat Islam adalah memahami Al Quran dan hadits dengan mengikuti orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan nikmat Islam. Siapakah mereka?
Ibnul Qoyyyim berkata, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta istiqomah mengikutinya maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus).”
Syaikh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan bahwa manusia yang paling utama yang telah Allah beri nikmat ilmu dan amal adalah para shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, karena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Dengan demikian penafsiran dan pemahaman merekalah yang paling selamat. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik dari umat ini dalam memahami Al Quran dan hadits serta mengamalkannya.
“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang yang mengikuti mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhori Muslim)
Yang dimaksud dengan generasiku adalah para shahabat beliau. Generasi orang yang mengikuti para shahabat dalam memahami Al Quran dan hadits adalah tabi’in dan yang mengikuti tabi’in adalah tabi’ut tabi’in.
Para shahabat merupakan kaum yang dipilihkan oleh Allah untuk menemani nabiNya, dan menegakkan agamaNya.
Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Allah memandang kepada hati para hambaNya. Dia mendapati Muhammad adalah yang paling baik hatinya. Lalu Allah memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Allah kembali memandang hati hamba-hambaNya yang lain. Dia mendapati para shahabat adalah orang-orang yang paling baik hatinya setelah beliau shollallahu ‘alaihi wasallam. Allah lalu jadikan mereka sebagai pembantu NabiNya dan mereka berperang membela agamaNya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)
Dan pemahaman para shahabat sering juga disebut manhaj salafus sholih (pemahaman pendahulu yang sholih).
KESIMPULANNYA
Setiap manusia akan merasakan betapa sebenarnya hidup di dunia adalah terlalu singkat, bila sudah berada di alam lain. Beruntung kalau balasan itu diberikan kepada manusia beriman, sebab tidak lain itu merupakan kenikmatan yang tiada batasannya. Tapi luar biasa ruginya kalau balasan itu diberikan kepada manusia durhaka, sebab tidak lain itu adalah siksaan yang sangat pedih dan sangat lama.Ingatlah wahai diriku, kita hidup ni ada tujuan, ada matlamatnya. Bukan saja-saja, bukan suka-suka sahaja Allah ciptakan kita.
RUJUKAN